Senin, 15 Juni 2009

Rabu, 13 Agustus 2008

ayah

Ini kejutan yang menyenangkan. Sewaktu rekaman Kick Andy dengan topik ‘’Suara Hati Kami’’, tiba-tiba Ahmad Albar muncul. Bukan untuk ikut rekaman, tetapi menemani dua sahabatnya di God Bless , Ian Antono dan Donny Fatah. Kedua sahabat Ahmad Albar itu memang sedang rekaman untuk Kick Andy.

Kedatangan Ahmad Albar juga sebagai wujud dukungannya bagi gerakan sejumlah musisi untuk menggalang dana bagi para musisi senior yang pada masa tuanya hidup merana. Mereka, para musisi yang pernah berjaya itu, banyak yang kini terbring sakit tanpa daya dan tanpa dana. Untuk itulah para musisi yang sekarang sedang berada di puncak ketenaran, tergerak untuk menggalang donasi guna menolong para musisi senior yang membutuhkan bantuan. Gerakan itu mereka beri nama “Suara Hati Kami’’. Kick Andy mendukung niat baik tersebut.

Kedatangan Ahmad Albar di studio segera menggiring ingatan pada almarhum ayah saya. Sewaktu tinggal di Jayapura, saya berlangganan majalah Aktuil. Majalah musik terbitan Bandung itu kerap melampirkan poster di tengah halamannya. Di antara poster-poster itu, ada beberapa poster Ahmad Albar. Poster-poster itulah yang saya tempel di seluruh dinding kamar tidur. Kamar ukuran empat kali empat yang saya tempati berdua bersama ayah.

Kamar itulah rumah kami. Di dalam kamar yang sempit itu ada sebuah lemari pakaian, satu meja makan, dua kursi, dan satu tempat tidur susun. Sempit dan sesak. Untung ada jendela yang menghadap ke jalan. Dari situ udara bisa leluasa masuk. Tidak terbayang jika jendela itu tidak ada. Di kamar itulah saya dan ayah hidup berdua saja hampir satu tahun lamanya.

Tidak ada ruang lain selain kamar itu. Ayah mengontraknya dari pemilik rumah. Ada tiga kamar di rumah itu. Satu dihuni pemilik rumah, satu ditempati anak pemilik rumah berserta istri dan anaknya, dan satu lagi ditinggali ayah dan saya. Jadilah rumah itu mirip kos-kosan. Beruntung kami diberi pinjaman gudang di belakang rumah yang oleh ayah disulap menjadi tempat menyimpan barang sekaligus dapur darurat. Tuan rumah juga berbaik hati membolehkan kami memakai satu dari dua kamar mandinya. Lumayan. Setidaknya pagi-pagi tidak perlu antre kalau mau mandi.

Itulah saat-saat saya lebih mengenal ayah saya, setelah sejak kecil harus berpisah darinya. Sejak lahir bayangan tentang ayah begitu buram. Saya hampir tidak mengenalnya jika saja foto-fotonya tidak dipajang di rumah. Sejak kecil saya sudah berpisah dari ayah. Sewaktu kami -- ibu, kedua kakak perempuan, dan saya -- tinggal di Surabaya, figur ayah tidak lagi berada di antara kami. Ayah sudah tinggal di Jakarta. Ayah sedang berjuang untuk mencari nafkah, begitulah kata ibu jika saya bertanya.

Sampai suatu ketika saya mengetahui ayah sudah berada di Irian Barat. Di Jayapura. Tempat yang katanya sangat jauh dan membutuhkan waktu hampir sebulan naik kapal laut perjalanan ke sana. Saya merasa ayah semakin jauh. Setelah itu sekian lama saya tidak lagi mendengar kabar tentang ayah. Saya kadang lupa saya punya seorang ayah. Saya juga lupa apakah saya pernah merindukannya. Hidup terus berlalu. Dari tahun ke tahun, tanpa ayah.

Suatu pagi ibu meminta saya berpakain rapih. Kakak-kakak saya semua sudah dandan. Ibu juga tampak cantik hari itu. Lama saya tidak melihat ibu berdandan. Hari itu kami akan ke Pelabuhan Tanjung Perak. Ada kapal dari Jayapura yang akan berlabuh siang itu. Ayah akan datang. Hati saya berdebar-debar. Apalagi ketika kapal mulai merapat. Kapal Pelni itu terasa besar sekali di mata anak seusia 12 tahun. Saya lihat ibu dan kakak-kakak juga gelisah. Saya berdebar-debar karena ingin melihat sosok ayah yang selama ini cuma saya kenal dari cerita ibu dan dari foto-fotonya. Seperti apakah sosok ayahku?

Sesosok pria tinggi kurus muncul dari kerumunan penumpang, memeluk ibu dan kakak-kakak saya, lalu dengan senyumnya yang lebar memeluk dan menggendong saya. ‘’Ah, ini anakku? Sudah sebesar ini?’’ Ayah tampak bangga.

Ayah tinggal hanya seminggu. Setelah itu saya lupa ayah ke mana, tetapi tidak lagi bersama kami. Belakangan saya baru tahu itu adalah upaya rujuk yang tidak berhasil. Ayah dan ibu kemudian memilih hidup berpisah lagi. Saya tidak punya ayah lagi.

Sekian tahun kemudian ibu memanggil saya. Katanya ayah ingin agar saya dan kakak perempuan saya ke Jayapura. Ayah sudah mendapat pekerjaan yang dia yakini mampu menghidupi kami. Saya dan kakak diminta datang lebih dulu ke Jayapura. Mungkin maksudnya sebagai tim pencari fakta. Bahasa kerennya due diligent, agar ibu yakin kami bisa hidup tanpa kekurangan di sana, di tanah papua.

Setelah sebulan di Jayapura, kakak kembali ke Malang. Saya tinggal berdua bersama ayah. Kami mengontrak satu kamar untuk berdua. Ayah berjanji jika ibu mau menyusul, dia akan mengontrak sebuah rumah, bukan kamar (janji yang tidak pernah bisa dia tepati karena selama di Jayapura kami mengontrak dari kamar ke kamar).

Masa-masa berdua bersama ayah, selama hampir setahun, membuat saya mengenal ayah lebih dekat. Sosok yang pengembira. Pandai bergaul. Sosok yang selalu hadir dengan lelucon-leluconnya yang membuat suasana menjadi riang. Tiada hari tanpa canda. Ayah ternyata juga jago dansa. Dia selalu ingin agar saya juga pandai berdansa. Keinginan yang tidak sesuai dengan kata hati saya. Saya tidak suka dansa.

Semakin lama saya semakin mengagumi lelaki kurus, tinggi, dan berambut abu-abu itu. Ayah terlihat juga sangat bangga pada saya. Setidaknya, dia selalu tidak sabar menunggu saat-saat menerima rapor di sekolah. Di situlah saya melihat betapa ayah, dengan senyum kebanggaan seorang ayah, melangkah ketika dipanggil pada urutan pertama. Pembagian rapor selalu dimulai dengan urutan murid ranking teratas. Itulah saatnya ayah menikmati kebanggaan di hadapan para orangtua murid lainnya.

Mulai dari kelas satu Sekolah Teknik (ST) di Jayapura, prestasi belajar saya lumayan. Setidaknya tidak pernah terlempar dari ranking tiga besar. Ayah juga selalu menceritakan kebanggaannya, kepada teman-temannya, tentang anaknya yang mengikuti jejaknya masuk sekolah teknik.

Ayah dulu bekerja sebagai teknisi di perusahaan perikanan. Dia bangga akan masa lalunya. Dia bangga menjadi ‘orang teknik’. Mungkin itu kebanggaan terakhir sebelum akhirnya dia harus menerima kenyataan di ujung hidupnya dia hanya menjadi montir mesin tik.

Selama hidup berdua dalam satu petak kamar, ayah dan saya selalu bergantian memasak. Siapa yang pulang ke rumah (baca: kamar) lebih dulu, dia yang memasak. Itulah aturannya. Yang pulang belakangan cuci piring. Tetapi pada kenyataannya ayah yang lebih sering memasak sekaligus mencuci piring. Belakangan saya yakin itu memang dia sengaja agar saya bisa lebih fokus belajar ketimbang mengurus ‘persoalan rumah tangga’.

Hidup dengan anak yang menjelang remaja tentu tidak mudah bagi ayah. Bayangkan, hampir setiap hari ayah harus mendengar musik ingar bingar yang saya putar. Belum lagi – ya itu tadi – poster band-band metal yang menempel hampir menutupi seluruh dinding kamar. Tetapi ayah tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Tidak sekalipun dia menyatakan keberatan. Cuma sekali saja dia bertanya dengan nada kurang mengerti, ketika saya menempelkan poster Ahmad Albar. Di poster itu Ahmad Albar mengenakan jaket hijau dengan rumbai-rumbai di leher tanpa mengenakan baju dalam. Dadanya terbuka. Wajahnya, di bagian seputar mata, dicat warna-warni. Gaya yang mengingatkan saya pada penyanyi Inggris Alice Cooper atau personal Band Kiss.

Menurut ayah dandanan Ahmad Albar aneh. Dengan nada guyon dia bilang heran mengapa saya memajang poster ‘arab gila’ (maaf Bung Iyek). Tetapi toh ayah tidak meminta saya mencopot poster itu. Bahkan belakangan dia kerap bertanya tentang sepak terjang Ahmad Albar yang saya baca melalui majalah Aktuil. Kami lalu sering berdiskusi tentang para musisi. Namun toh sebagai ‘teman sekamar’, ada kesepakaan di antara saya dan ayah soal urusan musik. Senin sampai Jumat, saya bebas menyetel musik-musik rock. Sementara Sabtu dan Minggu, saatnya ayah menikmati musik hawaian atau musik-musik ‘ambon manise’. Itulah saat di mana telinga saya mulai akrab dengan musik hawai, yang dulu kerap dinyanyikan mantan Kapolri Hoegeng di TVRI.

Maka, kehadiran Ahmad Albar di acara Kick Andy kembali menggiring saya pada kenangan manis bersama ayah. Ketika kami menjadi lebih sebagai teman ketimbang ayah dan anak. Itulah masa di mana saya mengenal lebih dekat sosok ayah yang lama tidak saya rasakan kehadirannya dalam hidup saya. Saya yakin Tuhan mengatur semua itu. Mengatur agar saya punya waktu cukup untuk mengenal ayah. Sebelum maut menjemputnya. Agar saya punya kenangan indah bersamanya.

Karena itu saya suka sedih jika melihat ada hubungan anak dan orangtua yang tidak harmonis. Sama seperti kisah Sisca Lawendatu yang pernah diangkat di Kick Andy episode re-branding. Bagaimana selama 26 tahun Sisca sengaja menjauh dari keluarganya karena merasa tidak mendapat kasih sayang yang didambakannya. Sebaliknya, sang ayah, di hadapan penonton di studio saat rekaman, mengaku tidak menyadari apa yang dilakukannya ternyata menyakiti hati sang putri.

Hidup begitu singkat. Kadang kita merasa tidak saling membutuhkan, tidak saling mencintai, sampai maut akhirnya memisahkan kita. Akan lebih berarti wujud cinta yang kita perlihatkan pada orang-orang tercinta ketika mereka masih hidup, ketimbang air mata yang tumpah di pusara yang tidak lagi bermakna.

Selasa, 12 Agustus 2008

Sejarah Orang Tuaku

yang aku tahu, ayahku bernama Sutiman. kakekku bernama Ronowijoyo, sedangkan nenekku bernama Minem. jangan tanya lagi mengenai kakek dan nenek dari sisi ayahku karena hanya itu yang aku tahu. bagaimana rupa mereka atau apapun tentang mereka aku tak tahu.

sedangkan ibuku bernama Janah. itu yang tertulis di segala kartu identitasnya, baik itu KTP, Surat Nikah, Kartu pemilih, sampai kartu subsidi kedelai. semuanya tertulis Janah. Namun nama yang diberikan oleh kakekku adalah hanya Jana. tanpa "h".

keluarga dari sisi ibuku lebih jelas karena sejak kecil aku tinggal dengan keluarga besar ibu di Kalimantan bukan dengan keluarga Bapak yang di Jawa. aku baru tahu keluarga yang di Jawa saat aku sudah berusia 23 tahun. itupun karena aku kuliah di Jakarta. kalau tidak, mungkin seumur hidup aku takkan tahu lagi siapa keluargaku yang di Jawa.

aku belum melanjutkan cerita tentang keluarga dari sisi ibuku. baiklah, kakekku bernama Adli Bin Kesek, sedangkan nenekku bernama khadijah binti Taman. dari sisi nenek aku ternasuk keturunan kepala kampung yang bergelar kyai Suta Bangsa. Namun itu sama sekali tak memberikan kedudukan sosial apapun bagi kami di masyarakat.

saudara ibuku hanya satu orang, namanya Aslen. kami memanggilnya Julak Alen. Julak adalah panggilan untuk paman atau bibi yang sulung. sedangkan suaminya bernama syahrin usin. kami memanggilnya dengan sebutan Julak Urin (urin bukan berarti air kencing dalam bahasa kami).

aku punya banyak sepupu, sedangkan saudaraku cuma dua orang. yang pertawa perempuan dan sudah meninggal ketika masih bayi dan yang kedua cowok dan sekarang sudah berkeluarga. sedangkan aku sekarang sudah menyelesaikan pendidikan dan bekerja di Departemen Keuangan.

Ayahku adalah seorang tentara, pensiunan dengan pangkat terakhir kopral satu. sedang ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa. seperti kebanyakan tentara yang bertugas di Kalimantan, mereka bertemu saat ayahku sedang bertugas di Kotawaringin Lama saat mengamankan pemilu. mereka bertemu dan menikah. kurasa hanya sesingkat itu.